Sabtu, 04 Agustus 2001
Sogo Jongkok
Wisata Belanja Murah Meriah
“Bohemia…Bohemia…” teriak seorang pedagang porselen lantang, ketika lewat di depannya beberapa perempuan setengah baya bersasak tinggi. Satu di antaranya — berkaca mata hitam — menghampiri. Terjadilah tawar-menawar harga, sebelum akhirnya ia mengeluarkan selembar uang ratusan ribu rupiah setelah mengamati sebuah vas bunga kristal dengan aksen tebaran warna emas.

Setengah mendesis ia berbisik pada rekan di sebelahnya,”Punyaku di rumah harganya segini.” Ia menunjukkan tiga jarinya. Tiga ratus rupiah!

Di Sogo Jongkok, fenomena di atas lazim terjadi. Tapi jangan pernah mengungkapkan keheranan Anda di depan penjualnya.

Bicara soal Sogo Jongkok, siapa saat ini orang Jakarta yang tidak mengenalnya? Dari hari ke hari, ‘pamor’ Sogo Jongkok — atau biasa disebut Sojo — makin berkibar. Pasar yang hanya ada tiap hari Sabtu dan Minggu di dekat Pasar Tanah Abang ini selalu dipadati pengunjung.

Selain berbelanja, banyak juga pengunjung yang sekedar melihat-lihat saja. Seperti yang dilakukan Emilia, yang Sabtu (28/7) lalu berkunjung bersama suaminya sepulang jogging di Monas. “Yang dibeli sih cuma T shirt suami saja, tapi kelilingnya sampai sejam,” ujarnya sambil tersenyum. Tiap kali berolah raga di Monas pada akhir pekan, ia pasti mampir ke sini.

Pasar yang aktifitasnya dimulai pukul 02.00 WIB ini jika diperhatikan memang agak berbeda dengan kerumunan lapak pedagang kaki lima lainnya. Mulai dari ragam barang yang digelar sampai berjejalnya pengunjung mulai lepas Subuh sampai menjelang siang hari. Tak hanya seperangkat pakaian seperti kemeja, celana panjang, pakaian dalam atau pakaian anak-anak saja yang tersedia, tapi juga barang rumah tangga lain mulai lampu kristal, alat dapur elektronik, sampai pesawat telepon.

Begitupun dengan harga yang ditawarkan. Mungkin sesuai dengan namanya, harga dari barang-barang yang tersedia di Sogo Jongkok tersebut pun juga ikut ‘jongkok’, alias beda jauh dengan harga di toko atau pusat perbelanjaan.

Misalnya saja telepon hias yang di mal bisa mencapai Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu, mka di sini hanya dijual sekitar Rp175 sampai Rp 250 ribu, Begitu juga dengan lampu kristal yang umumnya dijual dengan harga sampai jutaan rupiah, di sini lampu kristal Austria hanya dipatok dengan harga sekitar Rp 250 ribu sampai yang termahal Rp 1,7 juta. “Soal mutu, boleh dibandingkan dengan yang ada di toko, deh,” ujar Rudi Hasyim pedagang yang khusus menjual lampu kristal.

Selain itu, bunga kristal yang di pusat perbelanjaan sekitar Rp 30 ribu untuk yang kecil dan Rp 45 ribu untuk bunga kristal yang besar, di Sogo Jongkok ini harganya hanya berada pada kisaran Rp 12 ribu sampai Rp 30 ribu-an saja. sedang pasir kristal, hany dijual Rp 10 ribu perbungkus.

Menurut beberapa pedagang, barang tersebut dapat dijual dengan harga murah karena mereka tidak seperti toko yang harus membayar pajak dan sewa gedung. “Di sini kan kita enggak kena pajak dan sewa tempat kita sangat murah, jadi wajar kalau harga yang kita patok juga enggak semahal di tempat lain,” kata Rudi Hasyim.

Selain itu, “Kita mendapatkan barang langsung dari tangan pertama,” ujar Udin, pedagang pakaian jadi. Diantara barang yang bagus itu banyak juga yang memiliki sedikit cacat dan barang-barang dengan merek tiruan.

Untuk barang-barang yang memang memiliki merek dan kualitas bagus, jangan harap kita dapat menawar dibawah 50 persennya. Biasanya, harga yang mereka tawarkan pun sudah lebih murah dari harga ‘resmi’ di pusat perbelanjaan. Tawaran kita akan dianggap angin lalu jika terlalu rendah. Kita akan dianggap cuma iseng saja. “Lebih baik tahu dulu harga di toko,” saran Irma yang dijuluki ‘Sojo Mania’ oleh rekan-rekannya.

Membludaknya jumlah pembeli kini membuat Sojo yang awalnya hanya diisi oleh puluhan pedagang saja, saat ini telah dipenuhi oleh ratusan pedagang kaki lima. Persaingan ketat tentu menjadi santapan sehari-hari. Namun, meskipun begitu, perhari rta-rata pendapatan mereka lumaayan besar. “Bisa enam jutaan (rupiah) lah,” kata John Kristal.

Hanya saja, ada satu harapan dari pada pedagang, yaitu ketentraman berjualan. “Moga-moga sih, jangan ada macam-macam lagi,” ujar Udin penuh harap. Jika dikembangkan, menurutnya, Sojo potensial dijadikan salah satu daya tarik wisata belanja murah di Jakarta. mg01
Sumber: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=39058&kat_id=105&kat_id1=&kat_id2=