Yang Baru dan Murah di Sogo Jongkok

SEJAK subuh, Ny Lis (35) sudah bersiap-siap berangkat ke Tanah Abang. Bersama suaminya, wanita asal Yogyakarta ini sengaja ke Jakarta dengan tujuan khusus Sogo Jongkok, sebuah area perdagangan kaki lima di kawasan Tanah Abang yang hanya digelar pada hari Minggu.

“Aku mau kulakan baju di Sogo Jongkok,” ujar ibu dua anak itu. Mengendarai Suzuki Carry berdua, suami-istri itu berniat belanja baju-baju dengan harga miring alias murah untuk dijual lagi di Yogya.

Di antara begitu banyak pusat perdagangan yang pernah dijajaki, pilihan sudah dijatuhkan Ny Lis, yaitu Sogo Jongkok tadi. Dia tidak peduli bahwa untuk memilih-milih baju yang akan dibeli ia harus rela berjongkok-karena itu diberi nama Sogo (nama sebuah pertokoan terkemuka) Jongkok-di sela-sela begitu banyak orang.

Menempati badan jalan di Jalan Kebon Sirih hingga Jalan Fakhrudin, belanja murah meriah itu hanya digelar setiap hari Minggu pagi. Ratusan pedagang kaki lima menjajakan aneka macam pakaian anak dan dewasa, peralatan rumah tangga, dan mainan anak-anak. Semuanya barang baru, bukan bekas.

Selain berdesakan, pengunjung pasar “kaget” itu juga harus rela berjongkok untuk memilih barang-barang dagangan yang digelar beralas terpal di atas tanah. Ada juga pedagang yang menyiapkan meja lapak sehingga konsumen lebih mudah memilih barang-barang dagangan. Pasar itu mulai digelar sekitar pukul 06.00 pagi hingga sore hari. Karena menggunakan badan jalan umum, tak heran jika pasar itu hanya dapat digelar pada hari Minggu.

Seorang konsumen, Ny Budi (57), menuturkan, di Sogo Jongkok pembeli bisa memperoleh barang-barang yang diminati dengan harga “mengejutkan” asalkan gigih menawar. Misalnya, sebuah kemeja bermerek, yang di mal dijual seharga Rp 89.000, di pasar ini justru banting harga hanya Rp 25.000.

Sementara mobil-mobilan hanya ditawarkan seharga Rp 20.000 per unit. Padahal, harga barang yang sama di toko setidaknya mencapai Rp 25.000. Sebuah alat pembuat mi, setelah terjadi tawar-menawar, hanya dikenai harga Rp 45.000. Padahal, pedagang itu semula menawarkan Rp 85.000. “Tentunya, konsumen tetap harus memiliki sikap teliti sebelum membeli,” ujar Ny Budi.

MESKI ramai dikunjungi, Sogo Jongkok tetap menyisakan persoalan seperti yang terjadi pada pasar umumnya, yakni pungutan liar (pungli). Seorang pedagang busana menuturkan, berdagang kaki lima memang tidak mudah meskipun laku keras. “Bayangkan saja, setiap hari Minggu dari pagi sampai sore, saya bisa menjual sekitar 12 lusin pakaian. Setiap menjelang Lebaran, penjualan bisa mencapai lebih dari 50 lusin. Tapi, pungutan liarnya itu lho yang enggak tahan banyaknya,” ujarnya.

Setiap pedagang yang menggelar dagangan di kawasan “Sogo Jongkok” ini diharuskan membayar uang kebersihan sebesar Rp 20.000 kepada petugas “pasar”. Selain itu, pedagang juga ditarik pungutan oleh preman-preman sebesar Rp 2.000.

Dengan tingkat penjualan yang begitu tinggi, pungli itu memang tidak begitu dirasakan sebagai beban. Sampai di situ, perhitungan antara pendapatan dan pengeluaran bisa dibilang masih wajar. Hitung-hitung, pungli itu seperti uang sewa saja.

Namun, masalahnya jadi lain karena tidak sedikit preman atau petugas tak resmi yang memungut “setoran” itu. “Yang paling enggak tahan preman itu berjumlah sekitar 20 orang. Mereka datang silih berganti, dari sekitar pukul 11.00 sampai sekitar pukul 17.00,” ujar seorang pedagang yang tidak bersedia disebutkan namanya.

Jika dihitung-hitung, setiap kali berdagang seorang pedagang terpaksa membayar pungli sebesar Rp 60.000. Padahal, jumlah pedagang di Sogo Jongkok bisa mencapai sekitar 800 pedagang. Tentu, sungguh fantastis nilai pungli yang terjadi dalam satu hari saja itu. Jumlahnya mencapai sekitar Rp 48 juta. Dalam sebulan, pungli itu bisa mencapai Rp 192 juta.

Kesusahan pedagang ternyata tidak berhenti sampai di situ. Mereka juga mengalami kesusahan menjelang hari raya Idul Fitri. Seorang pedagang lain mengaku preman-preman itu bisa lebih bertindak kasar. Misalnya, meminta uang tunjangan hari raya (THR). Ada juga preman yang berlagak seperti konsumen pada umumnya. Mereka mengambil barang-barang dagangan, tanpa mau bayar sepeser pun. Sungguh ironis! (OSA/DAY)

Sumber:  http://www.kompas.com/kompas-cetak/0305/19/metro/315920.htm